Foto : Iman Herdiana/okezone
BANDUNG - Arsitek jebolan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Akhmad Zaki Yamani (34) berhasil memenangi Sayembara Desain Jembatan Siliwangi Bandung atau Siliwangi Pedestrian Bridge Design Competition (SPBDC) 2011.
Karya desain Akhmad tersebut berjudul Jembatan Kujang Siliwangi berhasil menjadi juara dan menyingkirkan 10 finalis lainnya.
Uniknya, pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini membuat desain tanpa meninjau langsung jembatan Siliwangi yang disayembarakan. Dia hanya melakukan riset visual lewat internet.
"Saya belum pernah ke lokasi, hanya tahu jembatan Siliwangi lewat foto-foto saja," ungkap Akhmad, di sela penganugerahan hadiah SPBDC 2011 di Balaikota Bandung, Jawa Barat, Rabu (27/7/2011) malam.
Lewat foto di internet, Akhmad dan empat rekannya harus bisa memperhitungkan tata letak dan kepadatan tanah di sekitar jembatan. Untuk menyelesaikan desain jembatan, timnya memakan waktu sekira dua bulan.
Sarjana arsitektur ITS lulusan 2001 ini juga harus melakukan riset sejarah dan kebudayaan Kota Bandung. Perlu waktu dua minggu bagi Akhmad untuk menentukan konsep dan nilai filosofis jembatan. Selama dua minggu itu dia membaca buku tentang Bandung dan kebudayaan masyarakat Sunda.
"Saya simpulkan, kujang identik dengan siliwangi dan siliwangi identik dengan masyarakat Bandung," tutur ayah satu puteri ini.
Menurutnya, sebuah karya arsitektur tidak bisa didesain tanpa punya dasar pemikiran. Benang merah kebudayaan Bandung adalah Siliwangi dan kujang yang layak dijadikan landmark.
Jembatan Kujang Siliwangi didesain dengan memadukan budaya tradisional dan modern sesuai syarat panitia SPBDC 2011. Jembatan sebagai jalan bagi pejalan kaki ini nantinya akan mengapit jembatan Siliwangi yang sudah ada. Tiang penyangganya akan berupa kujang yang memiliki fungsi estetis sekaligus sebagai tahanan kabel baja yang mengikat jembatan, seperti kabel penarik di fly over Pasupati.
"Jembatan kujang ini menjadi satu kesatuan antara jembatan dan taman kota. Sehingga sayembara bukan hanya desain jembatan tetapi juga desain taman kota yang berada di bawah jembatan. Biaya pembangunan sendiri akan menelan Rp4,5 miliar," paparnya.
Dengan kemenangan ini, Akhmad berharap bisa menjadi motivasi bagi rekan-rekan arsitek lainnya untuk selalu berkarya. Meski bukan orang Bandung, Akhmad juga mengaku bangga bisa meninggalkan jejak karya di Kota Kembang.
Padahal, dalam sayembara tersebut ada tiga orang yang juga menyajikan konsep kujang. Dia pun mengaku hanya iseng saja mengikuti sayembara. "Saya iseng saja daftar di internet dengan 4 orang rekan saya. Saya bangga karya kami bisa ada di Bandung," kata pengurus Sketsa Studio ini.
Bagi pria kelahiran 3 Desember 1976 ini, memenangi sayembara bukan yang pertama. Sebelumnya dia menjadi juara satu desain tata ruang kota Makassar (2010). Kini, suami Tutik Agustin ini aktif sebagai anggota profesi Ikatan Arsitektur Sulawesi Selatan.
Ketua Panitia Sayembara, Yanyan Wahdanimar menjelaskan, proses seleksi sayembara dimulai sejak lima bulan lalu. Pendaftaran melalui web SPBDC yang dikunjungi 9.851 orang dari dalam dan luar Bandung.
Pendaftar sebanyak 110 peserta dan mengajukan 56 karya. Kemudian diseleksi menjadi 10 finalis, yakni tiga finalis dari Bandung, empat finalis dari Yogjakarta, satu finalis dari Tangerang, satu finalis dari Makasaar, dan satu finalis dari Semarang.
Ditentukannya karya Akhmad dan kawan-kawan berdasarkan keputusan dewan juri yang diketuai Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda. Para penilai terdiri dari Wali Kota Bandung Dada Rosada, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) dan Budayawan Bandung Tisna Sanjaya, serta beberapa dosen dari perguruan tinggi Bandung lainnya.
(rhs)
Karya desain Akhmad tersebut berjudul Jembatan Kujang Siliwangi berhasil menjadi juara dan menyingkirkan 10 finalis lainnya.
Uniknya, pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini membuat desain tanpa meninjau langsung jembatan Siliwangi yang disayembarakan. Dia hanya melakukan riset visual lewat internet.
"Saya belum pernah ke lokasi, hanya tahu jembatan Siliwangi lewat foto-foto saja," ungkap Akhmad, di sela penganugerahan hadiah SPBDC 2011 di Balaikota Bandung, Jawa Barat, Rabu (27/7/2011) malam.
Lewat foto di internet, Akhmad dan empat rekannya harus bisa memperhitungkan tata letak dan kepadatan tanah di sekitar jembatan. Untuk menyelesaikan desain jembatan, timnya memakan waktu sekira dua bulan.
Sarjana arsitektur ITS lulusan 2001 ini juga harus melakukan riset sejarah dan kebudayaan Kota Bandung. Perlu waktu dua minggu bagi Akhmad untuk menentukan konsep dan nilai filosofis jembatan. Selama dua minggu itu dia membaca buku tentang Bandung dan kebudayaan masyarakat Sunda.
"Saya simpulkan, kujang identik dengan siliwangi dan siliwangi identik dengan masyarakat Bandung," tutur ayah satu puteri ini.
Menurutnya, sebuah karya arsitektur tidak bisa didesain tanpa punya dasar pemikiran. Benang merah kebudayaan Bandung adalah Siliwangi dan kujang yang layak dijadikan landmark.
Jembatan Kujang Siliwangi didesain dengan memadukan budaya tradisional dan modern sesuai syarat panitia SPBDC 2011. Jembatan sebagai jalan bagi pejalan kaki ini nantinya akan mengapit jembatan Siliwangi yang sudah ada. Tiang penyangganya akan berupa kujang yang memiliki fungsi estetis sekaligus sebagai tahanan kabel baja yang mengikat jembatan, seperti kabel penarik di fly over Pasupati.
"Jembatan kujang ini menjadi satu kesatuan antara jembatan dan taman kota. Sehingga sayembara bukan hanya desain jembatan tetapi juga desain taman kota yang berada di bawah jembatan. Biaya pembangunan sendiri akan menelan Rp4,5 miliar," paparnya.
Dengan kemenangan ini, Akhmad berharap bisa menjadi motivasi bagi rekan-rekan arsitek lainnya untuk selalu berkarya. Meski bukan orang Bandung, Akhmad juga mengaku bangga bisa meninggalkan jejak karya di Kota Kembang.
Padahal, dalam sayembara tersebut ada tiga orang yang juga menyajikan konsep kujang. Dia pun mengaku hanya iseng saja mengikuti sayembara. "Saya iseng saja daftar di internet dengan 4 orang rekan saya. Saya bangga karya kami bisa ada di Bandung," kata pengurus Sketsa Studio ini.
Bagi pria kelahiran 3 Desember 1976 ini, memenangi sayembara bukan yang pertama. Sebelumnya dia menjadi juara satu desain tata ruang kota Makassar (2010). Kini, suami Tutik Agustin ini aktif sebagai anggota profesi Ikatan Arsitektur Sulawesi Selatan.
Ketua Panitia Sayembara, Yanyan Wahdanimar menjelaskan, proses seleksi sayembara dimulai sejak lima bulan lalu. Pendaftaran melalui web SPBDC yang dikunjungi 9.851 orang dari dalam dan luar Bandung.
Pendaftar sebanyak 110 peserta dan mengajukan 56 karya. Kemudian diseleksi menjadi 10 finalis, yakni tiga finalis dari Bandung, empat finalis dari Yogjakarta, satu finalis dari Tangerang, satu finalis dari Makasaar, dan satu finalis dari Semarang.
Ditentukannya karya Akhmad dan kawan-kawan berdasarkan keputusan dewan juri yang diketuai Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda. Para penilai terdiri dari Wali Kota Bandung Dada Rosada, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) dan Budayawan Bandung Tisna Sanjaya, serta beberapa dosen dari perguruan tinggi Bandung lainnya.
(rhs)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar