Oleh: Koran Kaltim
INILAH.COM, Tenggarong - Koran Kaltim mendapatkan kesaksian mengenai kronologi petaka runtuhnya Jembatan Mahakam II pada Sabtu pekan lalu (26/11).
Kesaksian didapat dari salah seorang pekerja perawatan jembatan bernama Muhammad Haidir (28). Ia adalah satu dari enam pekerja yang sore itu sedang bekerja di atas jembatan.
Warga Kota Bangun Kukar ini selamat setelah berhasil melepaskan diri dari tali pengaman yang mengikat tubuhnya ke keranjang kerja. Dari hasil keterangannya, Koran Kaltim melakukan rekonstruksi detik-detik runtuhnya jembatan.
Ditemui Jumat pekan silam di salah satu rumah keluarganya di Sungai Kunjang Samarinda, Haidir mengaku diajak menjadi buruh di proyek itu oleh Udin, warga Loa Janan yang kerap menjadi rekannya dalam bekerja. Haidir dan Udin (30) adalah buruh lepas bangunan yang hanya bekerja bila ada ajakan.
“Tidak diberi tahu diupah berapa. Yang penting kerja dulu,” tukas Haidir.
Haidir bekerja bersama dua orang yang disebutnya ‘mandor’ dan lima buruh lepas lainnya: Udin, Yusuf, Erwin, Hendra (adik Udin, 21) dan Supriadi (31). Sedangkan dua mandor yang disebut Haidir adalah Makmur Azis (33) dan Nuryanto (45). Keduanya adalah pengawas dari PT Bukaka, pelaksana proyek pemeliharaan jembatan dan berasal dari Jakarta.
Mereka berdelapan bekerja mulai Kamis 24 November. Pada Kamis dan Jumat, mereka melakukan survei perencanaan kerja dan persiapan alat terlebih dulu. Di hari pertama mereka mengetahui bahwa level kerataan rangka bawah jembatan sudah bergelombang.
Sedangkan mereka ditugaskan untuk mengencangkan mur-baut pada pelat rangka bawah. Pengencangan baru dilakukan pada hari Sabtu.
Untuk diketahui, stayed cable atau hanger atau kabel penggantung, terhubung ke dua penumpu. Di atas terhubung ke klam, di bawah terhubung ke pelat rangka bawah. Jarak antar kabel adalah 10 meter.
Dongkrak yang mereka gunakan adalah sejenis hidrolik yang dilengkapi katrol, di bagian atas dicantelkan pada rangka baja atas ‘penutup’ jalanan, bagian bawah dicantelkan pada rangka bawah.
Cara kerjanya, dongrak hanya boleh menaikkan rangka bawah maksimal 5 cm, setelah itu baru mur-baut pelat rangka bawah dikencangkan. Bila sebuah sisi turun 25 cm, artinya proses tersebut mereka ulangi 5 kali sampai kerataan rangka sudah 0. Dongkrak hidrolik ini mampu mengangkat beban 200 ton.
“Kata pengawas, ada sisi yang rangkanya sampai 75 cm,” ujarnya.
Mereka bekerja mulai dari bentang sisi barat atau sisi Tenggarong. Pelat dengan kabel berhadap-hadapan harus mereka kerjakan bergiliran. Misal mereka mengencangkan mur-baut pelat pada kabel nomor 1 (paling ujung di sisi Tenggarong), maka selanjutnya mereka harus mengerjakan kabel di seberangnya. Begitu seterusnya.
Karena perlengkapan yang mereka bawa berukuran cukup besar dan mereka bertugas meratakan jalanan yang ketinggiannya bergelombang, pekerja harus menutup sisi jalan di mana mereka bekerja. Di tengah jalan juga diparkir sebuah mobil pikap warna putih yang mengangkut alat-alat kerja.
Jalan yang ditutup di area pekerjaan mereka sepanjang kurang lebih 30 meter. Untuk mengatasi ini, sistem buka-tutup arus kendaraan diterapkan dengan dua pekerja bertindak sebagai petugas buka-tutup.
Tugas pun dibagi. Haidir dan Udin bertugas masuk ke dalam keranjang kerja terpisah. Keranjang ini diturunkan melalui sisi luar trotoar dengan mencantelkan tali baja ke rangka bawah. Setelah itu mereka diturunkan, dari sisi luar jembatan keduanya lalu bisa mengakses mur-baut pada rangka dengan mudah.
Yusuf dan Erwin bertugas menjaga dongkrak jembatan. Sedangkan Hendra dan Supriadi bertugas mengatur arus buka-tutup lalu lintas. Sementara dua pengawas, Azis dan Nuryanto mengawasi pekerjaan di area jalan yang ditutup.
“Kami hanya mengerjakan di pelat bawah. Kami tidak sekali pun menyentuh klam atas,” tutur Haidir.
Pada hari Sabtu sore, 26 November, pekerjaan sudah mencapai pengencangan mur-baut pelat rangka jalanan di bentang tengah, sisi menghadap Pulau Kumala atau menghadap utara.
Pelat yang mereka kerjakan kira-kira pada kabel ke-8 setelah tiang utama/pylon di sisi Tenggarong. Di sisi utara bentang tengah itu ada 26 kabel bila dihitung mulai dari pylon sisi Tenggarong. Pada sisi itu mereka sudah berhasil mendongkrak jalan setinggi 10 cm.
Arus yang sedang ditutup saat itu adalah dari Tenggarong menuju Tenggarong Seberang. Ia tak ingat ada berapa kendaraan yang sedang antre pada ruas itu. Sementara yang sedang dibuka adalah dari arah sebaliknya. Haidir juga mengaku tidak melihat hal ganjil pada detik-detik sebelum musibah seperti jembatan bergoyang atau semacamnya.
Kemudian petaka terjadi.
Dari dalam keranjang kerja, Haidir melihat sebuah klam atas lepas dari penggantungnya. Itu kira-kira adalah klam atas pada kabel ke-19, yang kabelnya sama sekali belum disentuh para pekerja. Klam itu berada agak jauh di sisi kiri Haidir atau arah timur.
“Klam atasnya lepas, entah patah atau apa. Kabel yang menyangkut di klam itu ikut jatuh bersama klam,” dikisahkan Haidir.
Nasib tidak memberi jeda panjang. Satu klam lepas, satu demi satu klam lainnya ikut lepas atau patah dalam hitungan detik. Yang pertama berlepasan adalah klam-klam di bentang tengah sisi menghadap Pulau Kumala. Ruas jalan sisi Tenggarong ke Tenggarong Seberang lebih dulu miring ke bawah. Tapi hanya beberapa detik kemudian semua klam bentang tengah di sisi selatan atau yang menghadap Loa Kulu, ikut terlepas. Haidir dan seluruh korban jatuh ke Sungai Mahakam.
“Kejadiannya benar-benar cepat,” ujarnya.
Dari video berjudul ‘Detik-Detik Jembatan Kukar Runtuh’ di Youtube yang disaksikan oleh Koran Kaltim, Haidir ada benarnya. Dalam video yang diambil tidak sengaja oleh seseorang yang sedang berada di sisi Pulau Kumala/sisi utara, runtuhnya jembatan, terutama bentang tengah, terjadi dalam waktu hampir bersamaan.
Setelah itu Haidir hanya sadar segalanya gelap dan basah. Di kedalaman sungai sekitar 10 meter, ia berupaya melepaskan tali pengaman yang mengikat tubuhnya ke keranjang kerja yang terus jatuh ke sungai sedalam 50 meter itu. Ia berhasil dan langsung naik ke permukaan. 20 plastik besar yang berisi krupuk membantunya mengapung dan kemudian berenang dengan panik ke tepi sisi Tenggarong.
Apa yang ia perhatikan saat itu?
“Tidak perhatikan apa-apa lagi, tak dengar apa-apa. Yang ada di pikiran saya adalah berenang dan menyelamatkan diri dari situ,” tuturnya dengan mimik prihatin.
Akibat musibah itu Haidir terluka sepanjang 10 cm di leher dan sempat dirawat di RSUD AM Parikesit Tenggarong dan keluar pada Rabu lalu. Yusuf gegar otak dan masih dirawat. Udin, Hendra dan Supriadi masih hilang. Pengawas Azis jenazahnya ditemukan pekan lalu, sedangkan Nuryanto belum ditemukan. Kemana buruh Erwin?
“Saya lihat dia selamat. Tapi tak ada di rumah sakit dan daftar korban hilang. Mungkin dia takut dan lari,” tebak Haidir.
Haidir mengaku sudah diperiksa Polres Kukar dan diperbolehkan pulang. Ia mengaku agak cemas juga bila dijadikan tersangka di dalam musibah yang mendunia ini. Padahal ia hanya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Azis.
“Saya diperintahkan oleh Pak Azis mengencangkan mur-baut di pelat bawah. Penyebabnya juga bukan dari sisi bawah yang kami kerjakan, tapi klam atas yang kabelnya belum kami kerjakan. Kata mandor saya, selesai yang bawah dulu, lalu yang atas dikerjakan,” pungkasnya. [mor]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar