Selasa, 06 Desember 2011

Rekonstruksi Jelang Runtuhnya Jembatan Mahakam II

 
Oleh: Koran Kaltim 
INILAH.COM, Tenggarong - Koran Kaltim mendapatkan kesaksian mengenai kronologi petaka runtuhnya Jembatan Mahakam II pada Sabtu pekan lalu (26/11).
Kesaksian didapat dari salah seorang pekerja perawatan jembatan bernama Muhammad Haidir (28). Ia adalah satu dari enam pekerja yang sore itu sedang bekerja di atas jembatan.
Warga Kota Bangun Kukar ini selamat setelah berhasil melepaskan diri dari tali pengaman yang mengikat tubuhnya ke keranjang kerja. Dari hasil keterangannya, Koran Kaltim melakukan rekonstruksi detik-detik runtuhnya jembatan.
Ditemui Jumat pekan silam di salah satu rumah keluarganya di Sungai Kunjang Samarinda, Haidir mengaku diajak menjadi buruh di proyek itu oleh Udin, warga Loa Janan yang kerap menjadi rekannya dalam bekerja. Haidir dan Udin (30) adalah buruh lepas bangunan yang hanya bekerja bila ada ajakan.
“Tidak diberi tahu diupah berapa. Yang penting kerja dulu,” tukas Haidir.
Haidir bekerja bersama dua orang yang disebutnya ‘mandor’ dan lima buruh lepas lainnya: Udin, Yusuf, Erwin, Hendra (adik Udin, 21) dan Supriadi (31). Sedangkan dua mandor yang disebut Haidir adalah Makmur Azis (33) dan Nuryanto (45). Keduanya adalah pengawas dari PT Bukaka, pelaksana proyek pemeliharaan jembatan dan berasal dari Jakarta.
Mereka berdelapan bekerja mulai Kamis 24 November. Pada Kamis dan Jumat, mereka melakukan survei perencanaan kerja dan persiapan alat terlebih dulu. Di hari pertama mereka mengetahui bahwa level kerataan rangka bawah jembatan sudah bergelombang.
Sedangkan mereka ditugaskan untuk mengencangkan mur-baut pada pelat rangka bawah. Pengencangan baru dilakukan pada hari Sabtu.
Untuk diketahui, stayed cable atau hanger atau kabel penggantung, terhubung ke dua penumpu. Di atas terhubung ke klam, di bawah terhubung ke pelat rangka bawah. Jarak antar kabel adalah 10 meter.
Dongkrak yang mereka gunakan adalah sejenis hidrolik yang dilengkapi katrol, di bagian atas dicantelkan pada rangka baja atas ‘penutup’ jalanan, bagian bawah dicantelkan pada rangka bawah.
Cara kerjanya, dongrak hanya boleh menaikkan rangka bawah maksimal 5 cm, setelah itu baru mur-baut pelat rangka bawah dikencangkan. Bila sebuah sisi turun 25 cm, artinya proses tersebut mereka ulangi 5 kali sampai kerataan rangka sudah 0. Dongkrak hidrolik ini mampu mengangkat beban 200 ton.
“Kata pengawas, ada sisi yang rangkanya sampai 75 cm,” ujarnya.
Mereka bekerja mulai dari bentang sisi barat atau sisi Tenggarong. Pelat dengan kabel berhadap-hadapan harus mereka kerjakan bergiliran. Misal mereka mengencangkan mur-baut pelat pada kabel nomor 1 (paling ujung di sisi Tenggarong), maka selanjutnya mereka harus mengerjakan kabel di seberangnya. Begitu seterusnya.
Karena perlengkapan yang mereka bawa berukuran cukup besar dan mereka bertugas meratakan jalanan yang ketinggiannya bergelombang, pekerja harus menutup sisi jalan di mana mereka bekerja. Di tengah jalan juga diparkir sebuah mobil pikap warna putih yang mengangkut alat-alat kerja.
Jalan yang ditutup di area pekerjaan mereka sepanjang kurang lebih 30 meter. Untuk mengatasi ini, sistem buka-tutup arus kendaraan diterapkan dengan dua pekerja bertindak sebagai petugas buka-tutup.
Tugas pun dibagi. Haidir dan Udin bertugas masuk ke dalam keranjang kerja terpisah. Keranjang ini diturunkan melalui sisi luar trotoar dengan mencantelkan tali baja ke rangka bawah. Setelah itu mereka diturunkan, dari sisi luar jembatan keduanya lalu bisa mengakses mur-baut pada rangka dengan mudah.
Yusuf dan Erwin bertugas menjaga dongkrak jembatan. Sedangkan Hendra dan Supriadi bertugas mengatur arus buka-tutup lalu lintas. Sementara dua pengawas, Azis dan Nuryanto mengawasi pekerjaan di area jalan yang ditutup.
“Kami hanya mengerjakan di pelat bawah. Kami tidak sekali pun menyentuh klam atas,” tutur Haidir.
Pada hari Sabtu sore, 26 November, pekerjaan sudah mencapai pengencangan mur-baut pelat rangka jalanan di bentang tengah, sisi menghadap Pulau Kumala atau menghadap utara.
Pelat yang mereka kerjakan kira-kira pada kabel ke-8 setelah tiang utama/pylon di sisi Tenggarong. Di sisi utara bentang tengah itu ada 26 kabel bila dihitung mulai dari pylon sisi Tenggarong. Pada sisi itu mereka sudah berhasil mendongkrak jalan setinggi 10 cm.
Arus yang sedang ditutup saat itu adalah dari Tenggarong menuju Tenggarong Seberang. Ia tak ingat ada berapa kendaraan yang sedang antre pada ruas itu. Sementara yang sedang dibuka adalah dari arah sebaliknya. Haidir juga mengaku tidak melihat hal ganjil pada detik-detik sebelum musibah seperti jembatan bergoyang atau semacamnya.
Kemudian petaka terjadi.
Dari dalam keranjang kerja, Haidir melihat sebuah klam atas lepas dari penggantungnya. Itu kira-kira adalah klam atas pada kabel ke-19, yang kabelnya sama sekali belum disentuh para pekerja. Klam itu berada agak jauh di sisi kiri Haidir atau arah timur.
“Klam atasnya lepas, entah patah atau apa. Kabel yang menyangkut di klam itu ikut jatuh bersama klam,” dikisahkan Haidir.
Nasib tidak memberi jeda panjang. Satu klam lepas, satu demi satu klam lainnya ikut lepas atau patah dalam hitungan detik. Yang pertama berlepasan adalah klam-klam di bentang tengah sisi menghadap Pulau Kumala. Ruas jalan sisi Tenggarong ke Tenggarong Seberang lebih dulu miring ke bawah. Tapi hanya beberapa detik kemudian semua klam bentang tengah di sisi selatan atau yang menghadap Loa Kulu, ikut terlepas. Haidir dan seluruh korban jatuh ke Sungai Mahakam.
“Kejadiannya benar-benar cepat,” ujarnya.
Dari video berjudul ‘Detik-Detik Jembatan Kukar Runtuh’ di Youtube yang disaksikan oleh Koran Kaltim, Haidir ada benarnya. Dalam video yang diambil tidak sengaja oleh seseorang yang sedang berada di sisi Pulau Kumala/sisi utara, runtuhnya jembatan, terutama bentang tengah, terjadi dalam waktu hampir bersamaan.
Setelah itu Haidir hanya sadar segalanya gelap dan basah. Di kedalaman sungai sekitar 10 meter, ia berupaya melepaskan tali pengaman yang mengikat tubuhnya ke keranjang kerja yang terus jatuh ke sungai sedalam 50 meter itu. Ia berhasil dan langsung naik ke permukaan. 20 plastik besar yang berisi krupuk membantunya mengapung dan kemudian berenang dengan panik ke tepi sisi Tenggarong.
Apa yang ia perhatikan saat itu?
“Tidak perhatikan apa-apa lagi, tak dengar apa-apa. Yang ada di pikiran saya adalah berenang dan menyelamatkan diri dari situ,” tuturnya dengan mimik prihatin.
Akibat musibah itu Haidir terluka sepanjang 10 cm di leher dan sempat dirawat di RSUD AM Parikesit Tenggarong dan keluar pada Rabu lalu. Yusuf gegar otak dan masih dirawat. Udin, Hendra dan Supriadi masih hilang. Pengawas Azis jenazahnya ditemukan pekan lalu, sedangkan Nuryanto belum ditemukan. Kemana buruh Erwin?
“Saya lihat dia selamat. Tapi tak ada di rumah sakit dan daftar korban hilang. Mungkin dia takut dan lari,” tebak Haidir.
Haidir mengaku sudah diperiksa Polres Kukar dan diperbolehkan pulang. Ia mengaku agak cemas juga bila dijadikan tersangka di dalam musibah yang mendunia ini. Padahal ia hanya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Azis.
“Saya diperintahkan oleh Pak Azis mengencangkan mur-baut di pelat bawah. Penyebabnya juga bukan dari sisi bawah yang kami kerjakan, tapi klam atas yang kabelnya belum kami kerjakan. Kata mandor saya, selesai yang bawah dulu, lalu yang atas dikerjakan,” pungkasnya. [mor]

Selasa, 18 Oktober 2011

PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II

1) UmumTiang pancang dapat dipancang dengan setiap jenis palu, asalkan tiang pancang tersebut dapat menembus masuk pada ke dalaman yang telah ditentukan atau mencapai daya dukung yang telah ditentukan, tanpa kerusakan.

Bilamana elevasi akhir kepala tiang pancang berada di bawah permukaan tanah asli, maka galian harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum pemancangan. Perhatian khusus harus diberikan agar dasar pondasi tidak terganggu oleh penggalian di luar batas-batas yang ditunjukkan dalam Gambar.

Kepala tiang pancang baja harus dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel dan kepala tiang kayu harus dilindungi dengan cincin besi tempa atau besi non-magnetik. Palu, topi baja, bantalan topi, katrol dan tiang pancang harus mempunyai sumbu yang sama dan harus terletak dengan tepat satu di atas lainnya. Tiang pancang termasuk tiang pancang miring harus dipancang secara sentris dan diarahkan dan dijaga dalam posisi yang tepat. Semua pekerjaan pemancangan harus dihadiri oleh Direksi Pekerjaan atau wakilnya, dan palu pancang tidak boleh diganti dan dipindahkan dari kepala tiang pancang tanpa persetujuan dari Direksi Pekerjaan atau wakilnya.

Tiang pancang harus dipancang sampai penetrasi maksimum atau penetrasi tertentu, sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, atau ditentukan dengan pengujian pembebanan sampai mencapai ke dalaman penetrasi akibat beban pengujian tidak kurang dari dua kali beban yang dirancang, yang diberikan menerus untuk sekurang-kurangnya 60 mm. Dalam hal tersebut, posisi akhir kepala tiang pancang tidak boleh lebih tinggi dari yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan setelah pemancangan tiang pancang uji. Posisi tersebut dapat lebih tinggi jika disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Bilamana ketentuan rancangan tidak dapat dipenuhi, maka Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan untuk menambah jumlah tiang pancang dalam kelompok tersebut sehingga beban yang dapat didukung setiap tiang pancang tidak melampaui kapasitas daya dukung yang aman, atau Direksi Pekerjaan dapat mengubah rancangan bangunan bawah jembatan bilamana dianggap perlu.

Alat pancang yang digunakan dapat dari jenis gravitasi, uap atau diesel. Untuk tiang pancang beton, umumnya digunakan jenis uap atau diesel. Berat palu pada jenis gravi-tasi sebaiknya tidak kurang dari jumlah berat tiang beserta topi pancangnya, tetapi sama sekali tidak boleh kurang dari setengah jumlah berat tiang beserta topi pancangnya, dan minimum 2 ton untuk tiang pancang beton. Untuk tiang pancang baja, berat palu harus dua kali berat tiang beserta topi pancangnya.

Tinggi jatuh palu tidak boleh melampaui 2,5 meter atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Alat pancang dengan jenis gravitasi, uap atau diesel yang disetujui, harus mampu memasukkan tiang pancang tidak kurang dari 3 mm untuk setiap pukulan pada 15 cm dari akhir pemancangan dengan daya dukung yang diinginkan sebagaimana yang ditentukan dari rumus pemancangan yang disetujui, yang digunakan oleh Kontraktor. Enerji total alat pancang tidak boleh kurang dari 970 kgm per pukulan, kecuali untuk tiang pancang beton sebagaimana disyaratkan di bawah ini.

Alat pancang uap, angin atau diesel yang dipakai memancang tiang pancang beton harus mempunyai enerji per pukulan, untuk setiap gerakan penuh dari pistonnya tidak kurang dari 635 kgm untuk setiap meter kubik beton tiang pancang tersebut.

Penumbukan dengan gerakan tunggal (single acting) atau palu yang dijatuhkan harus dibatasi sampai 1,2 meter dan lebih baik 1 meter. Penumbukan dengan tinggi jatuh yang lebih kecil harus digunakan bilamana terdapat kerusakan pada tiang pancang. Contoh-contoh berikut ini adalah kondisi yang dimaksud :

§ Bilamana terdapat lapisan tanah keras dekat permukaan tanah yang harus ditem-bus pada saat awal pemancangan untuk tiang pancang yang panjang.

§ Bilamana terdapat lapisan tanah lunak yang dalam sedemikian hingga penetrasi yang dalam terjadi pada setiap penumbukan.

§ Bilamana tiang pancang diperkirakan sekonyong-konyongnya akan mendapat penolakan akibat batu atau tanah yang benar-benar tak dapat ditembus lainnya.

Bilamana serangkaian penumbukan tiang pancang untuk 10 kali pukulan terakhir telah mencapai hasil yang memenuhi ketentuan, penumbukan ulangan harus dilaksanakan dengan hati-hati, dan pemancangan yang terus menerus setelah tiang pancang hampir berhenti penetrasi harus dicegah, terutama jika digunakan palu berukuran sedang. Suatu catatan pemancangan yang lengkap harus dilakukan

Setiap perubahan yang mendadak dari kecepatan penetrasi yang tidak dapat dianggap sebagai perubahan biasa dari sifat alamiah tanah harus dicatat dan penyebabnya harus dapat diketahui, bila memungkinkan, sebelum pemancangan dilanjutkan.

Tidak diperkenankan memancang tiang pancang dalam jarak 6 m dari beton yang berumur kurang dari 7 hari. Bilamana pemancangan dengan menggunakan palu yang memenuhi ketentuan minimum, tidak dapat memenuhi Spesifikasi, maka Kontraktor harus menyediakan palu yang lebih besar dan/atau menggunakan water jet atas biaya sendiri.

2) Penghantar Tiang Pancang (Leads)
Penghantar tiang pancang harus dibuat sedemikian hingga dapat memberikan kebebasan bergerak untuk palu dan penghantar ini harus diperkaku dengan tali atau palang yang kaku agar dapat memegang tiang pancang selama pemancangan. Kecuali jika tiang pancang dipancang dalam air, penghantar tiang pancang, sebaiknya mempunyai panjang yang cukup sehingga penggunaan bantalan topi tiang pancang panjang tidak diperlukan. Penghantar tiang pancang miring sebaiknya digunakan untuk pemancangan tiang pancang miring. 

Gambar .20 – Alat Pancang Crane  
(selengkapnya......)

Desain Jembatan Selat Malaka

VIVAnews - Pemerintah Provinsi Riau berkomiten membangun Jembatan Selat bersama pemerintah Malaysia. Jembatan ini nantinya akan menghubungkan Malaka (Malaysia) dengan Rupat, pulau terluar Indonesia di Riau.

Lalu bagaimana desain jembatan yang bakal menelan biaya US$12,75 miliar atau sekitar Rp114 triliun itu?

Dalam proposal yang diajukan calon investor asal Malaysia, Strait of Malacca Partners Sdn Bhd, Jembatan Selat Malaka akan dibangun dengan panjang 48,69 kilometer (km). Namun, karena infrastruktur di Pulau Rupat belum memungkinkan, akan dibangun pula jalan sepanjang 71,2 km dan jembatan sekunder yang menghubungkan Pulau Rupat dengan Dumai, Pulau Sumatera, sepanjang 8 km.

Selat Malaka, merupakan salah satu jalur tersibuk di Asia Tenggara. Kapal-kapal besar dengan kapasitas ribuan ton biasa melewati laut dengan kedalaman 50-60 meter itu. Karena itu, pada jembatan utama, nantinya akan dibentuk tempat penyeberangan kapal.

Pada penyeberangan ini, jembatan tak lagi menggunakan tiang, melainkan kabel-kabel besar dengan jarak antartiang 4,3 km. Jembatan ini juga akan dinaikkan hingga 76 meter, sehingga kapal-kapal besar tetap bisa  melewati bawah jembatan ini.

Tempat penyeberangan kapal juga tak hanya itu, di jembatan ini nantinya akan dibangun dua tempat penyeberangan kapal yang lain. Namun masing-masing hanya selebar 2,3 dan 2,8 km.

Jembatan akan dibuat sebagai tempat penyeberangan yang ekonomis dan penampilan yang menarik. Orang-orang yang lewat nantinya tak hanya menyeberangi selat, tapi juga bisa melihat pemandangan di pulau-pulau sekitar.

Alternatif lain, jembatan akan dibangun dengan kombinasi terowongan. Sayangnya, bila pilihan ini hanya bisa dilewati kereta api.

Pada model ini, terowongan akan dimulai di Pulau Rupat dengan panjang 18,63 km ke arah Selat Malaka. Lalu di tengah-tengah laut, terowongan akan naik menjadi jembatan dengan kemiringan 3 persen. Sisanya, 40 km merupakan jembatan yang berakhir di Malaka.
Meski sudah dibuat terowongan bawah laut, jembatan juga akan dibuat dua penyeberangan kapal, masing-masing dengan lebar 2,8 dan 4,2 km. (umi)

Arsitek Jebolan ITS Juara 1 Lomba Desain Jembatan

Foto : Iman Herdiana/okezone
Foto : Iman Herdiana/okezone
BANDUNG - Arsitek jebolan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Akhmad Zaki Yamani (34) berhasil memenangi Sayembara Desain Jembatan Siliwangi Bandung atau Siliwangi Pedestrian Bridge Design Competition (SPBDC) 2011.

Karya desain Akhmad tersebut berjudul Jembatan Kujang Siliwangi berhasil menjadi juara dan menyingkirkan 10 finalis lainnya.

Uniknya, pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini membuat desain tanpa meninjau langsung jembatan Siliwangi yang disayembarakan. Dia hanya melakukan riset visual lewat internet.

"Saya belum pernah ke lokasi, hanya tahu jembatan Siliwangi lewat foto-foto saja," ungkap Akhmad, di sela penganugerahan hadiah SPBDC 2011 di Balaikota Bandung, Jawa Barat, Rabu (27/7/2011) malam.

Lewat foto di internet, Akhmad dan empat rekannya harus bisa memperhitungkan tata letak dan kepadatan tanah di sekitar jembatan. Untuk menyelesaikan desain jembatan, timnya memakan waktu sekira dua bulan.

Sarjana arsitektur ITS lulusan 2001 ini juga harus melakukan riset sejarah dan kebudayaan Kota Bandung. Perlu waktu dua minggu bagi Akhmad untuk menentukan konsep dan nilai filosofis jembatan. Selama dua minggu itu dia membaca buku tentang Bandung dan kebudayaan masyarakat Sunda.

"Saya simpulkan, kujang identik dengan siliwangi dan siliwangi identik dengan masyarakat Bandung," tutur ayah satu puteri ini.

Menurutnya, sebuah karya arsitektur tidak bisa didesain tanpa punya dasar pemikiran. Benang merah kebudayaan Bandung adalah Siliwangi dan kujang yang layak dijadikan landmark.

Jembatan Kujang Siliwangi didesain dengan memadukan budaya tradisional dan modern sesuai syarat panitia  SPBDC 2011. Jembatan sebagai jalan bagi pejalan kaki ini nantinya akan mengapit jembatan Siliwangi yang sudah ada. Tiang penyangganya akan berupa kujang yang memiliki fungsi estetis sekaligus sebagai tahanan kabel baja yang mengikat jembatan, seperti kabel penarik di fly over Pasupati.

"Jembatan kujang ini menjadi satu kesatuan antara jembatan dan taman kota. Sehingga sayembara bukan hanya desain jembatan tetapi juga desain taman kota yang berada di bawah jembatan. Biaya pembangunan sendiri akan menelan Rp4,5 miliar," paparnya.

Dengan kemenangan ini, Akhmad berharap bisa menjadi motivasi bagi rekan-rekan arsitek lainnya untuk selalu berkarya. Meski bukan orang Bandung, Akhmad juga mengaku bangga bisa meninggalkan jejak karya di Kota Kembang.

Padahal, dalam sayembara tersebut ada tiga orang yang juga menyajikan konsep kujang. Dia pun mengaku hanya iseng saja mengikuti sayembara. "Saya iseng saja daftar di internet dengan 4 orang rekan saya. Saya bangga karya kami bisa ada di Bandung," kata pengurus Sketsa Studio ini.

Bagi pria kelahiran 3 Desember 1976 ini, memenangi sayembara bukan yang pertama. Sebelumnya dia menjadi juara satu desain tata ruang kota Makassar (2010). Kini, suami Tutik Agustin ini aktif sebagai anggota profesi Ikatan Arsitektur Sulawesi Selatan.

Ketua Panitia Sayembara, Yanyan Wahdanimar menjelaskan, proses seleksi sayembara dimulai sejak lima bulan lalu. Pendaftaran melalui web SPBDC yang dikunjungi 9.851 orang dari dalam dan luar Bandung.

Pendaftar sebanyak 110 peserta dan mengajukan 56 karya. Kemudian diseleksi menjadi 10 finalis, yakni tiga finalis dari Bandung, empat finalis dari Yogjakarta, satu finalis dari Tangerang, satu finalis dari Makasaar, dan satu finalis dari Semarang.

Ditentukannya karya Akhmad dan kawan-kawan berdasarkan keputusan dewan juri yang diketuai Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda. Para penilai terdiri dari Wali Kota Bandung Dada Rosada, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) dan Budayawan Bandung Tisna Sanjaya, serta beberapa dosen dari perguruan tinggi Bandung lainnya.
(rhs)